Unsur Intrinsik
yang menonjol dari novel tersebut.
1.
Penokohan (Watak Tokoh)
Sitti Nurbaya
Lemah lembut,
penurut, anak yang berbakti.
Sitti Nurbaya
adalah salah satu protagonis utama. Menurut penulis cerpen dan kritikus sastra
Indonesia Muhammad Balfas, Nurbaya merupakan tokoh yang
dapat mengambil keputusan sendiri, sebagaimana terwujud ketika dia memutuskan
untuk menikah Datuk Meringgih ketika Meringgih mengancam ayahnya, kesediaannya
untuk mendorong Samsul, dan pelariannya dari Meringgih setelah ayahnya
meninggal. Dia juga cukup mandiri untuk pergi ke Batavia sendiri untuk mencari
Samsul. Tindakannya dianggap melanggar adat, dan ini akhirnya
membuat dia diracuni. Kecantikannya, sehingga disebut "bunga Padang",
dianggap sebagai wujud fisik dari hatinya yang baik dan beradab.
Samsul bahri
Samsul bahri adalah
protagonis pria utama. Dia dinyatakan sebagai orang yang berkulit kuning langsat,
dengan mata sehitam tinta; namun, dari jauh, dia dapat dikira orang Belanda.
Sifat fisik ini dijelaskan oleh Keith Foulcher, seorang dosen bahasa dan sastra
Indonesia di Universitas Sydney, sebagai wujud sifatnya yang
suka menjadi seperti orang Belanda. Penampilannya yang menarik juga dianggap
sebagai wujud sifatnya yang baik dan beradab.
Datuk Meringgih
Egois, pendendam, iri dengki.
Datuk Meringgih
adalah antagonis utama dari novel. Dia seorang pedagang yang dibesarkan di
keluarga yang miskin, lalu menjadi kaya setelah masuk ke dunia kriminal. Balfas
menyatakan bahwa dorongan utama Meringgih dalam cerita ialah rasa iri dan
keserakahan, sebab dia tidak dapat "menerima bahwa ada yang lebih kaya
daripada dia". Balfas beranggapan bahwa Meringgih adalah tokoh yang
"digambarkan dengan hitam dan putih, tetapi mampu untuk menyebabkan
konflik di sekitarnya". Menjelang akhir novel, Meringgih menjadi
"pejuang pasukan anti-kolonialis", didorong oleh keserakahannya;
menurut Foulcher, gerakan anti-kolonialis ini kemungkinan besar bukanlah usaha
untuk memasukkan komentar anti-Belanda.
Baginda Sulaiman.
Baginda
Sulaiman : Penyanyang
Sultan Mahmud Syah
Sebagai pelaku tambahan (Toloh Protagonis),
Ayahnya Samsul Bahri yang berwatak: Bijaksana, sopan, ramah, adil, penyayang.
2.
Amanat
Pesan utama
dari novel disampaikan dengan dialog panjang antara tokoh-tokoh dengan dikotomi
moral, untuk menunjukkan alternatif dari pendirian penulis dan, dengan
demikian, "menunjukkan alasan yang jelas mengapa penulis itu benar".
Namun, pandangan yang "benar" (punya penulis) ditunjukkan dengan
kedudukan sosial dan moral tokoh yang mengajukan pandangan tersebut.
Cinta itu tidak dapat dipaksakan. Cinta itu tidak dapat dikekang. Kita
tidak bisa memelihara cinta dalam ruang yang terbatas, karena hakikatnya cinta
itu bebas.
• Demi orang-orang
yang dicintainya seorang wanita bersedia mengorbankan apa saja meskipun ia tahu
pengorbanannya dapat merugikan dirinya sendiri. Lebih-lebih pengorbanan
tersebut demi orang tuanya.
• Bila asmara melanda jiwa seseorang maka luasnya samudra
tak akan mampu menghalangi jalannya cinta. Demikianlah cinta yang murni tak
akan padam sampai mati.
• Bagaimanapun juga praktek lintah darat merupakan sumber
malapetaka bagi kehidupan keluarga.
• Menjadi orang tua hendaknya lebih bijaksana, tidak
memutuskan suatu persoalan hanya untuk menutupi perasaan malu belaka sehingga
mungkin berakibat penyesalan yang tak terhingga.
• Dan kebenaran sesungguhnya di atas segala-galanya.
• Akhir dari segala kehidupan adalah mati, tetapi mati
jangan dijadikan akhir dari persoalan hidup.
3.
Tema
Sitti Nurbaya cenderung dianggap
mempunyai tema anti-pernikahan paksa, atau menjelaskan perselisihan antara
nilai Timur dan Barat. Novel
ini juga pernah dinyatakan sebagai suatu "monumen perjuangan pemuda-pemudi
yang berpikiran panjang" melawan adat. Namun, menurut Balfas tidaklah adil
apabila Sitti Nurbaya dianggap
hanya sebuah cerita tentang kawin paksa, sebab hubungan antara Nurbaya dan
Samsul dapat diterima masyarakat. Dia menegaskan bahwa novel ini merupakan
perbandingan pandangan Barat dan tradisional terhadap pernikahan, yang
dilengkapi dengan kritik sistem mas kawin dan poligami.
4.
Alur : Maju
Cerita novel
“Siti Nurbaya” ini ceritanya benar-benar dimulai dari eksposisi, komplikasi,
klimaks, dan berakhir dengan pemecahan masalah. Pengarang menyajikan ceritanya
secara terurut atau secara alamiah. Artinya urutan waktu yang urut dari
peristiwa A,B,C,D dan seterusnya.
5.
Latar(
Setting)
Waktu : Pagi, Siang, Petang
Suasana : Sedih, Gembira, Tertekan
Tempat : Di kediaman Baginda Sulaiman, di toko Baginda Sulaiman, kediaman Datuk Maringgih, Di kediaman samsul
Bahri, Di bawah pohon, dsb.
6.
Sudut Pandang.
Sudut pandang yag digunakan oleh pengarang movel “Siti
Nurbaya” ini yaitu sudut pandang diaan-mahatahu. Pengarang berada di luar
cerita hanya menjadi seorang pengamat yang maha tahu dan bahkan mampu berdialog
langsung dengan pembaca.
v
Unsur
Ekstrinsik yang Menonjol
B. Unsur Ekstrinsik
1. Keadaan subjektivitas pengarang yang memiliki
sikap, keyakinan, dan pandangan hidup.
Keadaan Subjektivitas: pengarang berusaha melakukan
inovasi baru, dengan menggebrak Sastra Indonesia Modern dengan melncurkan novel
ini dengan gaya bahasa sendiri. Pandangan hidup penulis adalah pandangan hidup
ke depan dan penuh inovasi baru. Dan juga tak terpaut juga terkekang dengan
adat istiadat lama.
2. Psikologi pengarang (yang mencakup proses kreatifnya.
Psikologi pengarang: merasa terkekang dengan adat
istiadat lama, dan melakukan terobosan dengan mengarang buku novel, “Siti
Nurbaya”.
3. Keadaan di lingkungan pengarang seperti ekonomi,
politik, dan sosial.
Keadaan yang terjadi: masih terkekang dalam kehidupan
adat istiadat yang masih kuno, baik dari segi ekonomi, politik dan sosialnya. Lalu
pengarang berusaha membuat terobosan baru dengan karyanya.
4. Pandangan hidup suatu bangsa dan berbagai karya
seni yang lainnya.
Pandangan yang terjadi: pada saat itu pandangan karya
seni cenderung monoton, dan gaya bahsanya hanya itu saja, jadi Marah Rusli
membuat gebrakan dengan memunculkan gaya bahasa Melayu.